Minggu, 25 September 2011 | By: Asril Arilaha

PENAMAAN MANAJEMEN OPERASI


Manajemen Operasional memiliki beberapa penamaan, yaitu Manajemen Pabrik (Manufacturing Management), Manajemen Produksi (Production Management), dan Manajemen Operasional (Operations Management). Menurut Adam dan Ebert (1992) manajemen pabrik lahir bersamaan dengan lahirnya revolusi industri di Inggris sekitar tahun 1785 dan dipicu oleh pemikiran Adam Smith, terutama tentang spesialisasi  (asas pembagian kerja) dan efisiensi ekonomi. Manajemen Pabrik diperlukan karena revolusi industri telah menggeser teknik pengolahan manual atau kerja tangan (hand-making production system) menjadi kerja mesin (machine-made production system).
Manajemen Produksi (Production Management) adalah istilah popular dibidang pengelolaan produksi sejak 1930-an sampai 1970-an. Manajemen Produksi lahir sejak Taylor mengenalkan pemikirannya yang terkenal dengan sebutan manajemen ilmiah (scientific management), hingga Jepang muncul sebagai salah satu negara industri berteknologi tinggi dan menawarkan gaya manajemen khas Jepang, yaitu Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management) dan Just In Time Production System pada awal tahun 1970-an. Gagasan Taylor mengenai produksi terutama bertujuan untuk menghilangkan gerakan-gerakan yang tidak berguna, yaitu  gerakan yang tidak memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan.
Manajemen Operasional (Operations Management) lahir sejak 1970-an hingga sekarang. Sasaran yang hendak dicapai Manajemen Operasional ialah mewujudkan efisiensi ekonomi (cost minimization) dalam proses produksi, baik barang maupun jasa,  kualitas yang tinggi (high quality), dapat diserahkan ke pasar dalam waktu yang cepat (speed of delivery), dan peralatan produksi dapat dengan segera dialihkan untuk mengerjakan produk lainnya (flexibility). Manajemen Operasional mengkaji produksi barang dan jasa. Manajemen Pabrik dan Manajemen Produksi hanya mengkaji  produksi barang.
Orientasi Manajemen Operasional sudah semakin luas dan lazim disebut memiliki orientasi pada biaya, mutu, kecepatan penyerahan, dan keluwesan proses. Manajemen Operasional terbangun dari dua kata, yaitu Manajemen dan Operasional. Manajemen memiliki dua makna, yaitu manajemen sebagai posisi dan manajemen sebagai proses.  Manajemen sebagai posisi, yaitu manajemen yang memilki makna sebagai seseorang atau sekelompok orang yang bertanggungjawab untuk melakukan pengkajian, penganalisaan, perumusan keputusan,  dan menjadi menginisiatif awal  dari suatu tindakan yang akan menguntungkan organisasi/perusahaan. Manajemen sebagai proses, yaitu manajemen yang  bermakna sebagai fungsi yang berhubungan dengan perencanaan, pengkoordinasian, penggerakan, dan pengendalian aktivitas organisasi atau perusahaan bisnis atau jasa.
Menurut Rosenberg (1993) bahwa operation yang kemudian diterjemahkan operasi atau operasional merupakan suatu proses atau tindakan tertentu yang menjadi unsur dari sejumlah kegiatan untuk membuat suatu produk. Operations (jamak dari operation) menunjukkan jumlah semua kegiatan atau proses yang diperlukan untuk memproduksi barang atau jasa tertentu. Russel dan Taylor (2000) menyamakan makna operations dengan proses pengubahan (transformation process) dan diartikan sebagai fungsi atau sistem yang melakukan kegiatan proses pengolahan masukan menjadi keluaran dengan nilai tambah yang lebih besar.
Secara singkat Manajemen Operasional dapat diartikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan perencanaan, pengkoordinasian,  penggerakan, dan pengendalian aktivitas  organisasi atau perusahaan bisnis atau jasa yang berhubungan dengan proses pengolahan masukan menjadi keluaran dengan nilai tambah yang lebih besar.
Dari sisi definisi tersebut, Manajemen  Operasional memiliki beberapa unsur utama, yaitu :
  1. Manajemen Operasional adalah sebuah proses manajemen, sehingga kegiatannya berawal dari aktivitas perencanaan dan berakhir pada aktivitas pengendalian.
  2. Manajemen Operasional mengkaji kegiatan pengolahan masukan menjadi keluaran tertentu, baik barang maupun jasa.
  3. Manajemen Operasional adalah betujuan untuk memberikan nilai tambah atau manfaat yang lebih besar kepada organisasi atau perusahaan.
  4. Manajemen Operasional adalah sebuah sistem yang terbangun dari sub-sistem masukan, subsistem proses pengolahan, dan subsistem keluaran.
Ada tiga kategori keputusan atau kebijakan utama yang tercakup didalamnya, yaitu :
  1. Keputusan atau kebijakan mengenai disain.  Keputusan atau kebijakan mengenai disain, yaitu tergolong  tipe keputusan berjangka panjang yang meliputi penentuan disain dari produk yang akan dihasilkan, disain atas lokasi dan tata-letak pabrik, disain atas kegiatan pengadaan masukan yang diperlukan, disain atas metode dan teknologi  pengolahan, disain atas organisasi/perusahaan, dan disain atas job description, dan  job specification.
  2. Keputusan atau kebijakan mengenai proses transformasi (operations). Keputusan operasi ini berjangka pendek, berkaitan dengan keputusan taktis dan operasi. Didalamnya terkait jadual produksi, gilir kerja (shift) dari personil pabrik, anggaran produksi, jadual  penyerahan masukan ke subsistem pengolahan, dan jadual penyerahan keluaran ke pelanggan atau penyelesaian produk.  
  3. Keputusan atau kebijakan perbaikan terus menerus dari sistem operasi. Karena sifatnya berkesinambungan (terus menerus), maka kebijaksanaan ini bersifat rutin. Kegiatan yang tercakup didalamnya pada pokoknya meliputi perbaikan terus Menerus  dari mutu keluaran, keefektifan dan  keefisienan sistem, kapasitas dan kompetensi dari para pekerja, perawatan sarana kerja atau mesin, serta perbaikan terus menerus atas metode penyelesaian atau pengerjaan produk.

0 komentar:

Poskan Komentar