Minggu, 25 September 2011 | By: Asril Arilaha

RUANG LINGKUP MANAJEMEN OPERASIONAL

Manajemen operasional mencakup tiga bagian penting yaitu Perecanaan Sistem Produksi; Pengedalian Produksi; dan Sistem Produksi.

1.    Perencanaan Sistem Produksi
Perencanaan Produksi
Perencanaan sistem produksi di awali dengan proses perencanaan produksi. Tujuan pokok berproduksi adalah menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, yaitu dalam hal jumlah, kualitas, harga dan waktu.

Untuk itu perencanaan memegang peranan penting dalam:
1.    Menentukan tujuan-tujuan itu sendiri
2.    Agar tujuan itu diintegrasikan;
3.    Pengawasan

Ketiga unsur di atas perlu, agar segala kegiatan berproduksi itu efisiensi, sedang pedoman bekerja pekerja pun ada. Dengan adanya tujuan tersebut dapatlah kemudian diletakkan kebijakan-kebijakan dasar. Penyediaan bahan baku merupakan contoh kebijakan dasar yang perlu ditetapkan sebelum proses produksi berlangsung. Dalam hal proses produksi, diletakan pula kebijakan dara pemanfaatan fasilitas produksi dan kebijakan-kebijakan lainnya.

Penentuan Lokasi Pabrik
Tempat proses produksi yang biasa dikenal dengan pabrik, perlu diletakan dan dibangun di daerah yang relatif baik bagi kepentingan perusahaan yang bertujuan memaksimumkan. Penempatan lokasi pabrik yang baik dengan sendirinya akan memberikan banyak efisiensi bagi pengusaha dalam meminimumkan biaya. Untuk menentukan lokasi pabrik perlu diperimbangkan hal-hal berikut:
a. Lingkungan Masyarakat. Kesediaan masyarakat suatu daerah menerima segala konsekuensi baik positif maupun negatif didirikannya suatu pabrik di daerah tersebut merupakan suatu syarat untuk dapat atau tidaknya pabrik tersebut di daerah itu.
b.    Sumberdaya Alam. Apabila suatu pabrik terletak jauh dari sumberdaya almanya maka akan semakin tinggi biaya pengangkutan dan distribusi bahan-bahan tersebut.
c.  Sumberdaya Manusia. Di dalam penentuan lokasi pabrik harus dipertimbangkan besarnya kebutuhan baik tenaga kerja terdidik dan cakap, terlatih dan tak cakap terhadap kemungkinan tersedianya tenaga-tenaga tersebut di sekitar daerah yang akan dipilih sebagai alternatif lokasi pabrik, misalnya di kota-kota besar atau kota-kota industri akan lebih mudah untuk memperolah tenaga-tenaga terdidik meskipun biayanya cukup mahal.
d.   Pasar. Lokasi pabrik juga bisa menyebabakan pertambahan biaya pada harga jual barang di pasar. Karena jarak yang jauh, diperlukan biaya transportasi yang cukup besar untuk bisa memasarkan produk. Biaya distribusi inilah yang menyebabkan harga barang tersebut bertambah.
e.   Pengangkutan. Tersedianya fasilitas angkut yang baik, baik untu bahan baku maupun barang jadi  yang dimiliki suatu daerah dapat m,engatasi kelemahan-kelemahan daerah tersebut akibat tidak dimilikinya factor-faktor tersebut di atas.
f.     Pembangkit Tenaga. Hampir setiap industri memerlukan tenaga yang mempengaruhi pula pemilihan lokasi pabrik. Perlu diperhartikan tersediannya pembangkita tenaga listrik yang disuplai guna mendukung proses produksi.
g.   Tanah untuk Perluasan. Tanah di daerah perkotaan tetu saja sulit untuk diperoleh dan harganya lebih mahal dibandingkan di pedesaan. Oleh karena itu pabrik-pabrik baru didirikan di luar kota sebagai alternatif temapt disebabkan karena alas an bahwa kemungkinan perluasan di masa depan akan lebih mudah mendapatkan tanah.

Penentuan Letak Fasilitas Pabrik
Setelah pabrik dipilih untuk menempati suatu daerah dengan memperhtiungkan berbagai faktor-faktor, maka selanjutnya ditentukan pula penempatan fasilitas produksi  (layout pabrik). Fasilitas-fasilitas tersebut harus diatur  sesuai dengan kebutuhan proses produksi sehingga hasil produksi dapat diproduksi dengan jumlah dan kualitas yang sesuai, dapat diselesaikan tepat pada waktunya dan dengan biaya yang minimum. Untuk memproleh layout yang efisien  terdapat beberapa kriteria berikut antara lain:
a.   Jarak angkut yang minimum. Jarak angkut yang minimu meliputi bahan baku, barang setengah jadi dan barang jadi dari tempat penerimaan melewati tempat-tempat produksi serta penyimpanan dan akhrinya ke tempat pengangkutan.
b.    Aliran material yang baik. Aliran material tersebut diusahakan agar tidak mengganggu proses produksi yang sedang berjalan dan tidak dapat berjalan dengan cepat.
c.   Penggunaan ruang yang efektif. Pemborosan ruangan berarti pemborosan uang pula sehingga harus diusahakan ruangan-ruangan yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu sempit.
d.  Luwes. Apabila perusahaan memproduksi berbagai macam produk dan diperlukan kombinasi produk yang berubah-ubah atau terdapat perubahan permintaan secara terus menerus maka diperlukan adanya layout yang luwes yang dapat menampung perubahan kombinasi produk tersebut.
e.    Keselamatan barang-barang yang diangkut.
f.     Kemungkinan-kemungkinan perluasan di masa depan.
g.  Biaya. Efektifitas yang maksimum faktor-faktor di atas perlu diusahakan dengan biaya rendah.

Penentuan Layout ditentukan oleh i) Jenis Produk; ii) Jenis Proses Produksi; dan iii) Volume Produksi. Produk yang dihasilkan ada yang bersifat pesanan, ada juga yang dibuat berdasarkan permintaan pasar, sehingga layout pabrik perlu disesuaikan dengan jenis produk tersebut. Selain jenis produk, jenis proses produksi juga menentukan dalam layout pabrik, karena hal ini menyangkut dengan teknologi, peralatan, jenis bahan baku yang digunakan serta alat penyedia pesanan. Volume produksi menjadi penentu layout produksi pada pemanfaatan kapasitas produksi serta kemungkinan ekspansi dan perubahan.

Perencanaan Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja yang dibahas adalah lingkungan kerja pabrik di mana karyawan melakukan proses produksi. Untuk itu perlu dilakukan pengaturan lingkungan kerja yang baik. Pengaturan lingkungan kerja adalah pengaturan penerangan tempat kerja, pengontrolan terhadap terhadap suara gaduh dalam pabrik, pengontrolan terhadap udara, pengaturan kebersihan tempat kerja dan pengaturan tentang keamanan kerja. Dari beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengaturan lingkungan kerja di dalam pabrik, yang paling utama adalah meyangkut dengan keselamatan dan kesehatan kerja.

Persoalan-persoalan Standar
Persoalan-persoalan standar menyangkut dengan pengerjaan standar; waktu standar; standar produksi; dan standar ukuran (standardisasi). Standardisasi merupakan usaha-usaha menentukan ukuran, bentuk, sifat, kualitas, fungsi dari produksi dan sekaligus proses produksinya.

2.    Pengendalian Produksi
Pengendalian Produksi
Proses produksi yang dilakukan oleh sebuah perusahaan dilakukan atas dasar rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Perencanaan produksi merupakan dasar bagi organisasi produksi untuk melaksanakan proses produksi, karena di dalamnya terdapat berbagai macam kebijakan serta standar-standar yang harus dipenuhi.  Namun produksi yang dilaksanakan tersebut harus terus diawasi agar proses produksi terkendali sebagaimana diharapkan sebelumnya. Untuk itu pegendalian produksi menjadi salah hal penting, karena pengendalian produksi yang baik dapat menghindari perusahaan dari over produksi. Kelebihan produksi dapat menyebabkan jumlah barang yang dipasarkan menjadi meningkatkan, yang dapat menyebabkan penurunan harga jual. Dampak paling akhir dari kelebihan hasil produksi adalah menurunnya keuntungan yang diperoleh perusahaan.

Pengendalian Bahan Baku
Masalah yang menonjol di dalam layout fugsional adalah bagaimana mengangkut barang-barang di dalam proses produksi dari satu bagian ke bagian yang lain, sehingga proses produksi tidak terganggu akibat terlambatnya barang-barang atau bahan mentah (bahan baku) yang akan diproses pada satu bagian tertentu. Masalah ini merupakan masalah pengendalian bahan baku (materilan handling). Material handling merupakan suatu seni dan ilmu untuk memindahkan, membungkus dan menyimpan bahan baku – bahan baku dalam segala bentuk.
Di dalam layout fungsional terdapat aliran-aliran bahan baku dalam proses produksi yang tidak teratur atau tidak memiliki pola yang tetap sehingga perlu adanya pemindahan bahan baku – bahan baku dari satu departemen ke departemen yang lain secara teratur dan tertib.

Pengendalian Biaya Produksi
Analisa biaya biasanya digunakan untuk mencari tingkat laba yang maximum. Sehingga dalam produksi terdapat pembagian atau penggolongan biaya produksi ke dalam biaya tetap dan biaya variabel. Lebih lanjut tentang pembagian serta penggolongan biaya, biaya variable dibagi lagi ke dalam biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Sedangkan biaya overhead pabrik perlu diklasifikasikan dengan lebih teliti, karena di dalamnya terdapat biaya variable, biaya tetap dan juga biaya semi variabel.
Dengan diketahuinya jenis-jenis biaya di atas, maka biaya produksi dapat dikendalikan. Hal ini penting karena biaya juga mempengaruhi terbentuknya laba.

Pengendalian Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan salah satu unsure penting dalam proses produksi. Selain bahan baku, proses produksi bisa berjalan dengan adanya tenaga kerja yang cukup memadai dan terlatih. Kualitas tenaga kerja perlu diperhatikan dalam rangka peningkatan kualitas produk yang dihasilkan. Seperti halnya pada bahan baku, tenaga kerja pelru juga untuk dikendalikan agar supaya proses produksi tidak terganggu. Kelebihan tenaga kerja dapat mengakibatkan inefisiensi kerja, karena banyaknya tenaga kerja yang menganggur. Sedangkan kekurangan tenaga kerja dapat berakibat kurang optimalnya proses produksi.

Pengendalian Kualitas
Pengawasan kualitas menentukan komponen-komponen mana yang rusak dan menjaga agar baha-bahan untuk produksi mendatang jangan sampai rusak. Pengawasan kualitas merupakan alat bagi manajemen untuk memperbaiki kualitas produk bila diperlukan, mempertahankan kualitas yang sudah tinggi dan mengurangi jumlah barang yang rusak.
Pengawasan kualitas menentukan ukura, cara dan persyaratan fungsional lain suatu produk dan menspesifikasikannya untuk maksud-maksud produksi sedang pemerikasaan mengecek apakah barang-barang yang diproduksi sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan oleh bagian pengawasan kualitas.

P e m e l i h a r a a n
Untuk mengcegah adanya hasil produksi yang cacat karena alat produksi yang mulai rusak, perlu dipertimbangkan usaha-usaha pemeliharaan alat-alat produksi tersebut sedini mungkin. Namun apabila hal tersebut masih saja menghasilkan produk yang cacat dengan peralatan produksi yang rusak, penggantian alat produksi merupakan alternatif tindakan yang perlu dilakukan.
Pemeliharaan alat-alat produksi sejak awal biasa dikenal dengan pemeliharaan preventif.

3.    Sistem Informasi Produksi
Struktur Organisasi
Pengorganisasian merupakan proses menciptakan hubunga-hubungan antara komponen-komponen organisasi dengan tujuan agar segala kegiatan yang diarahkan pada pencapaian tujuan organisasi. Komponen-komponen yang dimaksud dalam produksi adalah pekerjaan yang harus dilakukan, orang yang harus melakukan pekerjaan tersebutdan alat-alat yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan tersebut.
Hirarki operasional hendaknya diisi dengan personalia yangmemenuhi persyaratan-persyaratan tertentu dan perlu juga dimotivasi agar instruksi-instruksi berproduksi dapat diterima secara terbuka.

Produksi Atas Dasar Pesanan
Kosumen dalam memperoleh suatu barang ingin diperlakukan berbeda antar satu dengan lainnya. Walaupun peursahaan telah memproduksi produknya secara regular, masih terdapat permintaan dari konsumen yang ingin dilayani dengan perlakuan berbeda. dalam produksi barang, ditentukan oleh besarnya kapasitas produksi yang dimiliki. Kapasitas produksi yang digunakan kadang masih jauh dari batas maksimal kapasitas produksi.

Produksi Untuk Pasar
Perusahaan yang berproduksi secara regular, biasanya telah memiliki pasar yang baik. Perusahaan yang produksi untuk pasar, ditentukan oleh permintaan konsumen, baik konsumen yang sudah ada maupun konsumen potensial.

0 komentar:

Poskan Komentar